SELF DRIVING

Mungkin di antara kita pernah mendengar cerita-cerita atau berita-berita yang mengabarkan banyaknya lulusan perguruan tinggi (diploma atau sarjana) yang mengalami kegagalan dalam berkompetisi di dunia kerja dan pada akhirnya mengalami frustrasi. Sebagian kecil malah menunjukkan reaksi yang ekstrem atas kegagalannya dengan melakukan bunuh diri. Simak berita Kompas.com (4/8/12) tentang Ryan yang mengalami depresi karena lebih dari setahun menganggur dan meminta Mahkamah Konstitusi (MK) menguji materi Pasal 344 KUHP UUD 1945. Intinya, Ia meminta keputusannya untuk bunuh diri dilegalkan oleh negara secara hukum. Kalau kita tengok lebih jauh, Ryan bukanlah sarjana biasa-biasa. Ia mendapatkan gelar S2 dari jurusan Ilmu Administrasi FISIP UI dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 3,32. Bukankah ini cukup membanggakan?

Ada lagi cerita tentang mahasiswa kedokteran salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Timur yang telah lulus sarjana kedokteran dengan nilai memuaskan dan sedang melakukan tugas magang di RS sebagai dokter jaga di bagian UGD. Ternyata nilai bagus tidak menjamin kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasien dan keluarganya.

Seorang Ibu datang tergopoh-gopoh ke UGD RS tersebut sambil menggendong anaknya yang sudah lemas karena beberapa hari telah mengalami panas tinggi dan muncul bintik-bintik merah di beberapa bagian tubuhnya. Takut anaknya menderita penyakit yang parah, si ibu pun meminta dokter mengambil tindakan cepat dan merekomendasikan uji tes darah kepada anaknya (jika diperlukan). Setelah mendapatkan hasilnya, si ibu pun berkonsultasi ke dokter jaga UGD. Bukannya mendapatkan informasi yang jelas, dokter jaga UGD malah menegur si ibu untuk membawa anaknya ke poliklinik, bukannya ke UGD. Si ibu pun jelas kecewa mendengar perkataan dokter tersebut. Pada saat dilanda panik, alih-alih mendapatkan penjelasan yang detil tentang penyakit anaknya, si ibu malah mendapat teguran dan penolakan. Padahal Ia jelas-jelas tidak tahu sakit yang tengah dialami anaknya. Ia hanya menduga-duga anaknya sakit demam berdarah. Karena kecewa dan malu, si ibu pun memutuskan keluar dari UGD RS itu dan pindah ke RS lainnya yang dirasanya memberikan layanan yang lebih memuaskan.

Bagaimana mungkin seorang sarjana kedokteran tidak mampu menunjukkan empati kepada keluarga pasien? Cara berbicaranya ketus dan tidak memberikan rasa nyaman. Jika dicerna lebih dalam, seorang dokter seharusnya tidak hanya menguasai ketrampilan yang bersifat teknis medis, tetapi juga perlu memiliki pemahaman tentang psikologi, marketing, dan customer service. Meski bukan disiplin ilmu utama, tiga ilmu yang terakhir bisa dikatakan sebagai lokomotif penggerak dan berdayanya keterampilan teknis seorang dokter. Lebih jelasnya, se-ahli apapun seorang dokter, jika tidak komunikatif dan empatik, tentunya banyak pasien yang merasa tidak puas dan mungkin akan memilih dokter lainnya. Belum lagi kerugian yang didapatkan RS karena isu ketidakpuasan yang dialami pasien atau keluarganya bisa berdampak pada ranah hukum ataupun pencemaran nama baik (negative image) RS.

Cerita lainnya datang dari mahasiswa yang mendapatkan nilai A dari kelas marketing. Sayangnya, selama ini kecerdasan mahasiswa semata-mata diukur dari ujian tertulis, buku, tes, dan paper. Alhasil, mereka tidak mencerminkan kualitas A yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin seseorang yang mendapat nilai A di kelas marketing, tetapi bicaranya ketus, berpakaian sembarangan, ‘packaging’-nya buruk, dan tidak punya banyak kawan.

Bukankah marketing itu kepuasan pelanggan, mengerti cara melakukan branding, packaging, image, dan mengembangkan nettworking? Mengapa tidak dimulai dari diri sendiri? Mengapa hal-hal semacam itu hanya ada pada tataran pikiran (pengetahuan)? Inilah perbedaan antara “tahu” dan “bisa”.

Pada akhirnya, orang-orang seperti ini akan kesulitan mencari pekerjaan atau berwirausaha. Mereka kesulitan memasarkan diri dan terjadilah yang tak diinginkan : frustrasi dan depresi. Ada yang salah dengan sistem yang diajarkan kepada anak didik kita atau nilai-nilai yang diinternalisasi oleh mereka.

Terbiasa mengandalkan gelar dan background universitas yang dimiliki, membuat para lulusan tidak mampu mendorong dan menggerakkan dirinya (self) lebih maju.  Prof. Rhenald Kasali menyebutnya sebagai gabungan antara kompetensi (what you can do), kecekatan (how agile you are), dan perilaku (your attitude, your gesture). Untuk bisa menggerakkannya, Anda memerlukan kendaraan dan pengemudinya, yaitu Anda sendiri.

MENTALITAS DRIVER vs PASSENGER

Sejatinya, pendidikan seyogyanya mengajarkan proses belajar, yaitu bagaimana memperbaiki cara berpikir dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya, banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, tetapi tidak ‘belajar’. Cerita-cerita di atas banyak menggambarkan kisah sarjana kita yang mungkin hanya menghafal di bangku kuliah sehingga seberapa tinggi pun nilai IPK-nya, tetap bukanlah berpikir.

Simaklah cerita Theodore Roosevelt yang mewarisi penyakit degeneratif alergi bronkial yang membuatnya mengalami serangan asma yang parah. Kondisi fisiknya yang lemah menyebabkan TR, panggilan akrabnya, harus ikut home schooling dengan guru privat. Kebiasaan menulis dan membaca dari jarak dekat rupanya mempengaruhi miopianya sehingga kemudian Ia terdeteksi mengalami rabun jauh ekstrem.

Ayah TR adalah seorang pria tegar yang mendorong anak-anaknya membangun tubuh dengan latihan yang sistematis. Katanya, “ TR, percuma saja engkau belajar keras kalau tubuhmu rapuh. Kendaraan pribadimu yang lemah itu tak akan pernah bisa membawamu ke masa depan yang kau impikan lewat sekolah.’ TR pun berlatih banyak sekali cabang olah raga : menembak, tinju, gulat, mendayung, berkuda, mendaki gunung, judo, karate, tenis, dan renang. Ia terobsesi membangun keunggulan dalam permainan dan olah raga yang menyerukan kekuatan, ketahanan, dan keterampilan.

Berkat kerja kerasnya, Ia diterima sekolah di Harvard sebelum belajar hukum di Columbia Law School. Ia terpilih menjadi anggota Majelis Negara Bagian New York, komisaris di Kepolisian Kota New York, Asisten Sekretaris Angkatan Laut, bahkan bergabung dengan resimen kavaleri dalam Perang Spanyol-Amerika. Ia pun terpilih menjadi Gubernur New York State dan wakil presiden pada konvensi Partai Republik. Pada usia 42 tahun, Ia disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat termuda.

Apa yang membedakan cerita tentang Ryan, dokter, mahasiswa marketing dan TR? Cermati apa yang disampaikan sastrawan George Bernard Shaw : “Only two percent of the people think; tree percent of the people think they think; and ninety five percent of the people would rather die than think.”

Benarkah hanya dua persen di antara para eksekutif kita yang berpikir? Mungkin saja benar. Fakta ini didukung oleh kenyataan bahwa hanya 2% dari seluruh mahasiswa yang menikmati kuliah di perguruan tinggi yang menjadi pemimpin (driver), selebihnya menjadi penumpang (passenger).

Ya, setiap orang memiliki kendaraan yang kita sebut dengan self (diri). Dan dalam diri itu terdapat mentalitas atau jiwa pembawa diri itu. Maka itulah kita bisa membedakannya ke dalam dua kategori mental : mentalitas pengemudi dan mentalitas penumpang.

Prinsip seorang driver adalah inisiatif, melayani, navigasi, dan tanggung jawab.

  1. Inisiatif
    Inisiatif. Bekerja tanpa ada yang menyuruh, berani mengambil langkah beresiko, resonsif, dan cepat membaca gelas.
  2. Melayani
    Melayani. Orang yang berpikir tentang orang lain, mampu mendengar, mau memahami, peduli, berempati.
  3. Navigasi
    Navigasi. Memiliki keterampilan membawa gerbong ke tujuan, tahu arah, mampu mengarahkan, memberi semangat, dan menyatukan tindakan. Memelihara ‘kendaraan’ untuk mencapai tujuan.
  4. Tanggung Jawab
    Tanggung jawab. Tidak menyalahkan orang lain, tidak berbelit-belit atau menutupi kesalahan diri sendiri.

Demikianlah seorang driver, Ia harus tahu arah jalan dan cara memperbaiki serta merawat kendaraannya. Mereka menjadi self driver bukan karena tidak memiliki pilihan untuk hidup yang lebih baik, melainkan karena kesadaran. Sadar bahwa sesuatu akan menjadi lebih baik bila Anda sendiri yang mengubahnya. Andalah penentu masa depan, baik masa depan diri sendiri, keluarga, perusahaan/lembaga tempat Anda berada, dan Andalah penentu nasib bangsa. Kuncinya adalah : berpikir, berani keluar dari sangkar emas (zona nyaman).

Driver memiliki mentalitas yang ditandai dengan :

  • Sangat tidak puas dengan keadaan sekarang (status quo).
  • Menyukai tantangan baru, mengeksplorasi peluang baru, dan selalu belajar hal-hal baru.
  • Memecahkan masalah bersama, menginspirasi orang lain.
  • Bekerja dengan hati, mencintai sesama, menjaga hubungan baik, memiliki kepedulian (empati).
  • Memimpin dengan pertanyaan, memperbaiki cara berpikir penumpangnya.
  • Memberikan arah jalan yang jelas, merangkul orang-orang yang berbeda paham dengannya.
  • Berani melakukan kesalahan kecil dan mengambil resiko yang terukur.
  • Sangat mencintai perubahan, namun rendah hati dan penuh empati.
  • Dikendalikan oleh critical and creative thinking.

Mentalitas Penumpang (passenger mentality) ditandai dengan :

  • Puas dengan keadaan sekarang.
  • Tidak menyukai tantangan baru.
  • Menyerahkan masalah pada atasan atau orang lain.
  • Menunggu perintah dan hanya menjawab dengan kata ‘siap’.
  • Takut menghadapi masalah dan melakukan kesalahan.
  • Dikendalikan oleh ‘autopilot’.
  • Terlalu membanggakan apa yang telah dicapai.
  • Sangat mencintai jabatan atau kekuasaannya, menjadikan organisasi sebagai alat untuk ‘menumpang hidup’.

Untuk menjadi seorang driver, maka Anda-lah yang menentukannya. Anda-lah orang yang pertama-tama menentukan masa depan hidup Anda. Anda harus menentukan apakah ingin terperangkap sebagai penumpang dengan segala masalahnya, atau keluar dengan menjadi pemimpin.

Masalahnya hanya satu : Anda mau atau tidak untuk berubah menjadi driver. Pepatah mengatakan, mustahil kita mendapatkan hasil yang berbeda dari tindakan yang sama berulang-ulang. The choice is yours.

MULAILAH BERPIKIR

Mengapa para sarjana sulit memperoleh pekerjaan?

Dari 7,7 juta penduduk Indonesia, yang menganggur hampir 500.000 orang, di antaranya adalah sarjana. Kalau setiap tahun ada 200.000 orang sarjana yang dihasilkan negeri ini, maka ini berarti tiga generasi sajana pada saat bersamaan dianggap dunia kerja sebagai tidak (atau belum) layak bekerja.

Padahal banyak orang tua, termasuk petani dan buruh kasar berpenghasilan di bawah dua dollar sehari (setara dengan kurang lebih Rp. 25.000) berupaya keras menjual harta benda agar anak-anaknya tidak menjadi petani dan buruh kasar lagi. Mereka mengirim anak-anaknya ke universitas agar menjadi sarjana. Mereka berpikir dengan menjadi sarjana, anak-anak itu otomatis telah berpikir (think that they think). Pada kenyataannya, mereka hanya mendapatkan selembar ijazah dan tetap sulit bekerja.

Dalam dunia riil atau realitas, penguasaha tidak mencari pegawai yang bertipe ‘pemegang ijazah’. Para pengusaha menyadari bahwa kampus baru mengisi anak didiknya dengan pengetahuan. Sedangkan untuk menghasilkan manusia yang berpikir, dibutuhkan lebih dari sekedar pengetahuan, yaitu keterampilan dalam memindahkan pikiran ke dalam tindakan nyata. Tindakan hanya bisa didapat melalui latihan dan disimpan dalam muscle memory (myelin). Sementara pengetahuan disimpan dalam brain memory. Brain memory baru berkembang apabila manusia melatih myelin-nya.

Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan ke kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki, dan mulut sama-sama harus dilatih dan bekerja.

Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa bisa dimulai dari mana saja. Yang penting kita bisa melatih diri  kita menjadi self driver dan menjadikannya mampu berpikir kreatif serta kritis terhadap fakta dan informasi.(vanda.pdv1@gmail.com)

(Diolah dari buku Self Driving, Rhenald Kasali, 2014, terbitan Mizan)

Artikel/Self Driving/PDv/ vanda.pdv1@gmail.com/1115